BAB I
Pendahuluan
A.
Latar belakang
Potensi sumberdaya
manusia merupakan asset nasional sekaligus modal dasas pembangunan bangsa.
Potensi hanya dapat digali dan dikembangkan serta di pupuk secara efektif
melalui strategi pendidikan dan pembelajaran yang terarah dan terpadu, yang di
kelola secara serasi dan seimbang dengan memeperhatikan pengembangan potensi
peserta didik secara utuh dan optimal. Karena itu, strategi manajemen
pendidikan perlu secara khusus memperhatikan pengembangan potensi peserta
didik yang memiliki kemampuan dan
kecerdasan luar biasa (unggul), yaitu dengan cara penyelenggaraan program
pembelajaran yang mampu mengembangkan keunggulan-keunggulan tersebut, baik
keunggulan dalam hal potensi intelektual maupun bakay khusus yang bersifat
keterampilan (gifted and talented).
Kegiatan pembelajaran pada anak harus
senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang
sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua
aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis yang meliputi
perkembangan intelektual, bahasa, motorik dan sosio emosional. Optimalisasi
Tumbuh Kembang Anak Usia Dini pembiasaan, keteladanan, dan
pembelajaran. We know nothing kita tidak tahu apa apa, berarti kita harus
memulai dari nol dan mencoba mencari tahu apa yang kita tidak .
Bahan–bahan main yang terpilih,
membangun interaksi dengan anak dan. membuat rencana kegiatan main untuk anak.
Proses pembelajaran anak usia. dini dilakukan melalui sentra atau area main.
Sentra atau area tersebut bisa Inilah yang menurut kami, upaya penerapan
Pembelajaran Multiple-Intelligences dengan Strategi Optimalisasi dengan
Batasan.
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali
kita mendengar orang berbicara mengenai intelegensi sebagai faktor yang
menentukan berhasil tidaknya siswa di sekolah. Pengetahuan mengenai kemampuan
intelektual atau intelegensi siswa akan membantu pengajar menenetukan apakah
siswa mampu mengikuti pelajaran yang diberikan serta meramalkan keberhasilan
atau gagalnya siswa yang berangkutan bila telah mengikuti pengajaran yang
diberikan. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa prestasi siswa tidak
semata-mata ditentukan oleh tingkatan kemampuan intelektualnya.
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran
masalah intelegensi merupakan salah satu masalah pokok, karenanya tidak
mengherankan kalau masalah tersebut banyak dikupas orang baik secara khusus
maupun secara sambil lalu dalam pertautan dengan perkupasan yang lain. Tentang
peranan intelegensi didalam proses pendidikan ada yang menganggap demikian
pentingnya sehingga di pandang menentukan dalam berhasil atau tidaknya
seseorang dalam hal belajar, sedang pada sisi lain ada juga yang menganggap
bahwa intelegensi merupakan tidak lebih mempengaruhi soal tersebut.
kecerdasan
merupakan salah satu faktor utama yang menentukan sukses dan gagalnya Peserta
didik belajar di sekolah. Peserta didik mempunyai taraf kecerdasan rendah atau
dibawah normal sukar untuk di harapkan memperoleh prestasi yang tinggi. Tetapi
tidak ada jaminan dengan taraf kecerdasan tinggi seseorang secara otomatis dia
akan sukses belajar di sekolah.
B.
Rumusan
masalah
1. Bagaimana
definisi pengaruh kecerdasan natural dan spasial dalam pembentukan karakter
anak?
2. Bagaimana
teori para ahli pengaruh kecerdasan natural dan spasial dalam pembentukan
karakter anak?
3. Bagaimana
dampak positif dan negative pengaruh kecerdasan natural dan spasial dalam
pembentukan karakter anak?
4. Bagaimana
cara pengaplikasian di sekolah pengaruh kecerdasan natural dan spasial dalam
pembentukan karakter anak?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui definisi pengaruh kecerdasan natural dan spasial dalam pembentukan
karakter anak.
2. Untuk
mengetahui teori para ahli pengaruh kecerdasan natural dan spasial dalam
pembentukan karakter anak.
3. Untuk
mengetahui dampak positif dan negative pengaruh kecerdasan natural dan spasial
dalam pembentukan karakter anak
4. Untuk
mengetahui cara mengaplikasian di sekolah pengaruh kecerdasan natural dan
spasial dalam pembentukan karakter anak
BAB
II
Pembasan
A.
definisi
pengaruh kecerdasan natural dan spasial dalam pembentukan karakter anak.
1. Kecerdasan
spasial
Menurut
Muchlisin
Riadi (2013) Kecerdasan visual dan spasial adalah kemampuan untuk melihat
dan mengamati dunia visual dan spasial secara akurat (cermat). Visual artinya
gambar, spasial yaitu hal-hal yang berkenaan dengan ruang atau tempat.
Kecerdasan ini melibatkan kesadaran akan warna, garis, bentuk, ruang, ukuran
dan juga hubungan di antara elemen – elemen tersebut. Kecerdasan ini juga
melibatkan kemampuan untuk melihat obyek dari berbagai sudut pandang.
Kecerdasan visuap – spasial merupakan kecerdasan para arsitek, fotografer,
artis, pilot, dan insinyur mesin.[1]
Menurut Hamza b. uno
(2010:13) Kecerdasan spasial adalah memuat kemampuan seseorang untuk memahami
secara lebih mendalam hubungan antara objek dan ruang. Peserta didik ini
memeiliki kemampuan, misalnya untuk menciptakan imajenasi bentuk dalam pikiranya atau kemampuan untuk menciptakan
bentuk-bentuk tiga dimensi seperti di jumpai pada orang dewasa yang menjadi
pemahat patung atau arsitek suatu bangunan. Kemampuan membayangkan suatu bentuk
nyata kemudian memecahkan berbagai masalah sehubungan dengan kemampuan ini
adalah hal yang menonjol pada jenis kecerdasan visual-spasial. Peserta didik
yang demikian akan unggul, misalnya dalam permainan mencari jejak pada suatu
kegiatan dalam kepramukaan.[2]
Menurut
Risa dea (2016) Kemampuan spasial merupakan bagian dari intelegensi. Dalam kemampuan spasial dikenalkan
dengan berbagai hubungan dalam bentuk gambar.Piaget & Inhelder
(1971)menyebut kanbahwa kemampuan spasialsebagai konsep abstrak yang di
dalamnya meliputi hubungan spasial (kemampuan untuk mengamati hubungan
posisi objek dalam ruang), kerangkaacuan (tanda yang dipakai sebagai patokan untuk
menentukan posisi objek dalam ruang), hubungan proyektif (kemampuan untuk
melihat objek dariberbagai sudut pandang), konservasi jarak (kemampuan untuk memperkirakan jarak antara dua titik), representasi spasial (kemampuan untuk
merepresentasikan hubungan spasial dengan memanipulasi secara
kognitif), rotasi mental (membayangkan perputaran objek dalam ruang).
McGee (dalamTurgut& Yilmas2012) mengatakan bahwa kemampuan spasial meliputi
orientasi keruangan dan visualisasi keruangan. Carroll (dalam Yilmas
2009) mengemukakan
dalam mendeteksi kemampuan spasial ada lima cluster yaitu: Visualization
(Vz), Spatial Relations (SR), Closure Speed (CS), Flexibility
of Closure (CF), dan Perceptual Speed (P)
Suparyan (2007) menjelas kanlima elemen dari
kemampuan spasial sebagai berikut:
a.
Persepsi Keruangan (Spatial
Perception)

Gambar 1. Contoh Persepsi Keruangan
b.
Visualisasi Keruangan (Spatial
Visualization)

Gambar 2.Contoh Visualisasi Keruangan
c.
Visualisasi
Keruanganc. Rotasi Pikiran (Mental Rotation)

Gambar 3. Contoh untuk
Rotasi Pikirand.
d.
Relasi Keruangan(Spatial
Relations)
Relasi keruangan berarti kemampuan untuk mengerti
wujudkeruangan dari suatu benda atau bagian dari benda dan hubungannya
antarabagian yang satu dengan yang lain. Misalnya seseorang harus dapatmengenal
identitas suatu benda yang ditunjukkan dengan posisi yangberbeda. Proses
mental dari relasi keruangan ini adalah statis.Contohnyaadalahsebuah kubus
yang sisi-sisinya diberi tanda dan kemudianapakahgambar-gambarkubus itu
mewakili kubus yang ditentukan

Gambar 4.Contoh Relasi Keruangan
e.
Orientasi
Keruangan(Spatial Orientation)

Gambar 5. Contoh Orientasi Keruangan
2.
Kecerdasan Naturalis
Menurut
Muchlisin
Riadi (2013) Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan,
mengungkapkan dan membuat kategori terhadap apa yang di jumpai di alam maupun
lingkungan. Intinya adalah kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan
bagian lain dari alam semesta.[4]
Menurut Hamza b. Uno
(2010) kecerdasan naturalis ialah kemampuan seseorang untuk peka terhadap
linkungan alam misalnya, senang berada di lingkungan alam yang terbuka, seperti
pantai, gunung, cagar alam, atau hutan. Peserta didik dengan kecerdasan seperti
ini cenderung suka mengobservasi lingkungan alam, seperti aneka macam bebatun,
jenis-jenis lapisan tanah, aneka macam flora dan fauna, benda-benda luar
angkasa, dan sebagainya.[5]
Menurut
Yusri Zulkifli (2009) Kecerdasan Naturalis Memiliki
ciri antara lain:
a) suka
dan akrab pada berbagai hewan peliharaan,
b) sangat menikmati
berjalan-jalan di alam terbuka,
c) suka berkebun
atau dekat dengan taman dan memelihara binatang,
d) menghabiskan
waktu di dekat akuarium atau sistem kehidupan alam
e) sukamembawa pulang serangga
daun bunga atau benda alam lainnya,
f) berprestasi
dalam mata pelajaran IPA, Biologi, dan lingkungan hidup.
Salah satunya adalah kecerdasan naturalis atau kecerdasan alam.
Kecerdasan naturalis adalah kecerdas
yang dimiliki oleh individu terhadap tumbuhan, hewan
dan lingkungan alam sekitarnya. Individu yang memiliki kecerdasan naturalis
yang tinggi akan mempunyai minat dan kecintaan yang tinggi terhadap
tumbuhan, binatang dan alam semesta. Ia tidak akan sembarangan menebang pohon.
Ia tidak akan sembarangan membunuh dan menyiksa binatang. Dan ia
juga akan cenderung menjaga lingkungan dimana ia berada. Ia akan
menyayangi tumbuhan, binatang dan lingkungan sebagaimana
ia menyayangidirinya sendiri. Inilah kecerdasan naturalis yang tinggi.
Nah, orang-orang yang bersusah payah menanam
kembali pohon di area yang gundul tanpa mengharapkan imbalan
yang memadai itulah orang-orang yang mempunyai kecerdasan
naturalis yang tinggi. Sebaliknya, orang-orang yang dengan mudahnya
merusak lingkungan, menyiksa dan membunuh binatang serta
menebang tumbuhan secara sembarangan itulah orang-orang yang mempunyai
kecerdasan naturalis yang rendah.
Kecerdasan naturalis
perlu diajarkan dan ditanamkan sejak anak usia dini, yaitu antara 0-6 tahun
sesuai dengan teori perkembangan otak. Pada saat Ini efektifitasnya sangat
tinggi artinya pada saat usia ini internalisasi nilai-nilai naturalis akan
sangat efektif diserap dan diterapkan oleh anak-anak. Diatas usiaini
efektifitasnya diprediksi berkurang dan semakin kurang efektif sejalan
dengan bertambahnya usia anak tersebut.[6]
B. teori para ahli pengaruh kecerdasan
natural dan spasial dalam pembentukan karakter anak
1.
Kecerdasan spasial
Menurut Risa
Dea (2016) teori para ahli tentang kecerdasan spasial
Gardner (1983 : 173) mengungkapkan bahwa
kemampuan spasial adalah suatu kemampuan untuk menangkap ataupun memebayangkan
dunia ruang secara akurat, serta mampu melakukan perubahan melalui penglihatan dan
menciptakan bayangan dari benda Senada dengan. Gardner Armstrong (2009:7) menyebutkan
bahwa kemampuan spasial adalah kemampuan untuk melihat dunia visual-spasial secara
akurat dan kemampuan untuk melakukan perubahan dengan penglihatan atau membayangkan.
Kemampuan ini berkaitan dengan warna, garis, bangun, bentuk, ruang, serta hubungannya.
Hal ini termasuk kemampuan untuk membayangkan, menggambarkan ide visual-spasial
dan menjelaskan secara akurat susunan keruangan. Gardner(1983) mengelompokkan kemampuan
spasial ke dalam tiga kelompok umum yaitu:
1.
Kemampuan melihat
dan membayangkan bentuk dari benda
2.
Kemampuan melihat
serta menciptakan perbedaan, keseimbangan dan komposisi dalam tayangan visual/ruang
3.
Kemampuan menciptakan
gambaran-gambaran visual ruang dari dunia dan mentransfer semua gambaran-gambaran
itu secara abstrak.
Pendapat lain yang diungkapkan Velez, Deborah dan
Marilyn mengelompokkan kemampuan spasial menjadi lima kelompok yaitu:
1.
Orientasi spasial
adalah kemampuan menduga secara akurat perubahan orientasi suatu obyek,
2.
Memori lokasi spasial
adalah kemampuan untuk mengingat posisi obyek dalam suatu urutan,
3.
Visualisasi spasial
adalah kemampuan mengenal dan menghitung perubahan orientasi pada suatu adegan.
4.
Disembedding adalah
kemampuan untuk menemukan suatu obyek sederhana yang diletakkan dalam gambar yang
lebih rumit,
5.
Persepsi spasial
adalah kemampuan menemukan arah horizontal dan vertikal yang paling lazim dalam
suatu keadaan yang polanya dialihkan.
Hoerret.
Al (2010: 200) menyebutkan bahwa kemampuan spasial dapat dikembangkan dengan
cara mengintegrasikan kemampuan spasial terhadap kurikulum disekolah yang berlaku
dalam kegiatan belajar dan mengajar. Sehingga selama anak bersekolah keampuan
ini dapat dipelihara, dikembangkan dan ditingkatkan. Gardner menambahkan bahwa
kemampuan spasial dapat dikembangkan dengan cara memberikan anak kesempatan
untuk mengembangkan kemampuannya dan pikirannya dengan memberinya permasalahan
yang dapat diselesaikan dengan caranya sendiri baik dengan cara yang sudah
biasa dilakukan ataupun dengan cara modern.[7]
2.
Kecedasan natural
Menurut Yusri Zulkifli (2009) teori para ahli tentang
kecerdasan natural yaitu:
Menurut Sternberg dalam McNerney D.M. (1998:49-50)
inteligensi/kecerdasan ialah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan
alat-alat berpikir menurut tujuannya. Lebih lanjut Sternberg menyatakan bahwa inteligensi
mencakup kemampuan manusia akantiga komponen, yaitu:
1)
Inteligensi komponensial,
yaitu kemampuan untuk berpikir, merencanakan dan memonitor proses kognitif
2)
Inteligensi eksperensial,
yaitu kemampuan untuk memformulasikan ide-ide baru dalam memecahkan masalah,dan
3)
Inteligensi kontekstual,
yaitu kemampuan untuk beradaptasi dalam menanggapi suatu peluang atau kesempatan
secara optimis.
Dalam perkembangan konsep inteligensi terjadi
perubahan dari konseptunggal sampai dengan inteligensi majemuk. Kecerdasan/inteligensi
majemuk (multiple intelligence) dikembangkan oleh Gardner yang pada awalnya menyatakan
bahwa inteligensi manusia memiliki tujuh dimensi yang semiotonom, yaitu:
1)
linguistik,
2)
musik,
3)
matematik logis,
4)
visual spasial
5)
kinestetik fisik,
6)
sosial interpersonal
dan
7)
intrapersonal.
Kecerdasan majemuk menurut Gardner lebih
bersifat manusiawi dan lebih dapat dipercaya karena teori ini lebih mencerminkan
secara memadai tingkah laku kecerdasan manusia. (Gardner H 1993 : 13-15)
Menurut De Porter dkk., (2002: 96-100)
seseorang yang memiliki kecerdasan naturalis tinggi selalu berpikir dalam acuan
alam. Hal ini dapat dilihat dari kemampuannya melihat hubungan dan pola dalam dunia
alamiah, mengidentifikasi dan berinteraksi dengan proses alam. Pendapat di atas
didukung oleh Amstrong T. (2002:26) yang menyatakan bahwa anak-anak yang kompeten
dalam kecerdasan naturalis merupakan pencinta alam. Anak-anak ini lebih suka mengumpulkan
bebatuan atau bunga daripada terkurung di sekolah atau rumah mengerjakan tugas menulisnya.
Jika diberi tugas sekolah yang melibatkan bunga-bungaan atau tanaman juga hewan,
anak-anak ini akan termotivasi dengan lebih baik.[8]
C.
dampak positif dan negative
pengaruh kecerdasan natural dan spasial dalam pembentukan karakter anak
1.
Kecerdasan
spasial
Menurut Siti Marliah
Tambunan (2016)(dalam Hamza B.
Uno google scholar) Kognisi sebagai
salah satu aspek dalam diri manusia berfungsi pada adaptasi seseorang terhadap
lingkungan yaitu bagaimana seseorang mengatasi lingkungan serta
mengorganisasikan pikiran dan tindakannya. Menurut Piaget (dalam Santrock,
2005) adaptasi tersebut melibatkan asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah
proses pengambil-alihan informasi baru dan menyesuaikannya dengan konsep yang
ada pada dirinya. Akomodasi adalah proses dimana seseorang menyesuaikan yang
ada pada dirinya sebagai akibat dari informasi baru agar sesuai dengan
pengalaman baru. Selanjutnya Piaget menambahkan bahwa kognisi adalah hasil interaksi
yang berkesinambungan antara seseorang dengan lingkungannya. Kemampuan spasial
merupakan salah satu aspek dari kognisi. Kemampuan spasial merupakan konsep
abstrak yang meliputi persepsi spasial yang melibatkan hubungan spasial
termasuk orientasi sampai pada kemampuan yang rumit yang melibatkan manipulasi
serta rotasi mental. Dalam kemampuan spasial diperlukan adanya pemahaman
kirikanan, pemahaman perspektif, bentuk-bentuk geometris, menghubungkan konsep
spasial dengan angka dan kemampuan dalam transformasi mental dari bayangan
visual. Pemahaman tersebut juga diperlukan dalam belajar matematika. Pada anak
usia sekolah kemampuan spasial ini sangat penting karena kemampuan spasial erat
hubungannya dengan aspek kognitif secara umum. Penelitian menunjukkan bahwa
pemahaman pengetahuan spasial dapat mempengaruhi kinerja yang berhubungan
dengan tugas-tugas akademik erutama matematika, membaca dan IPA Studi dari Guay
& McDaniel (1977) dan Bishop (1980) menemukan bahwa kemampuan spasial
mempunyai
hubungan positif dengan matematika pada anak usia sekolah.
Studi dari Shermann (1980) juga menemukan bahwa matematika dan berpikir spasial
mempunyai korelasi yang positif pada anak usia sekolah, baik pada kemampuan
spasial taraf rendah maupun taraf tinggi. McGee (1979) menemukan bahwa
perbedaan dalam memecahkan soal-soal matematika antara anak laki-laki dan anak
perempuan disebabkan oleh perbedaan dalam kemampuan spasial mereka. Kemampuan
spasial anak laki-laki lebih baik daripada anak perempuan. Penelitian lain
menemukan bahwa tidak adanya hubungan antara kemampuan spasial dengan
matematika (Lean & Clemens, 1982).
Dari pengalaman penulis dalam menangani anak usia sekolah
yang mengalami penurunan prestasi di sekolah, mereka mengeluhkan sulitnya
memahami pelajaran matematika dan sebagian besar dari mereka memperoleh nilai
matematika yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai mata pelajaran lainnya. Selain
itu, berdasarkan pengalaman penulis khususnya dalam pemeriksaan psikologis
terhadap anak-anak usia sekolah yang mengalami masalah kesulitan membaca dan
kesulitan matematika, nampaknya factor kemampuan spasial kurang diperhitungkan
sebagai kemungkinan salah satu faktor penyebab. Berdasarkan uraian di atas
menjadi pertanyaan apakah kemampuan spasial turut berperan terhadap rendahnya
nilai matematika . Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan
antara kemampuan spasial dengan prestasi belajar matematika pada anak usia
sekolah?
Salah satu aspek dari kognisi adalah kemampuan spasial.
Piaget & Inhelder (1971) menyebutkan bahwa kemampuan spasial sebagai konsep
abstrak yang di dalamnya meliputi hubungan spasial (kemampuan untuk mengamati
hubungan posisi objek dalam ruang), kerangka acuan (tanda yang dipakai sebagai
patokan untuk menentukan posisi objek dalam ruang), hubungan proyektif
(kemampuan untuk melihat objek dari berbagai sudut pandang), konservasi jarak
(kemampuan untuk memperkirakan jarak antara dua titik), representasi spasial
(kemampuan untuk merepresentasikan hubungan spasial dengan memanipulasi secara kognitif),
rotasi mental (membayangkan perputaran objek dalam ruang).
Kemampuan spasial diperoleh anak secara bertahap, dimulai
dari pengenalan objek melalui persepsi dan aktivitas anak di lingkungannya.
Pada awalnya, kemampuan spasial anak belum menunjukkan pengetahuan konseptual
dari hubungan spasial. Dalam menentukan letak posisi objek dan orientasi dalam ruang,
anak masih menggunakan patokan diri. Dengan bertambahnya usia, patokan tersebut
berkembang menjadi patokan orang dan patokan objek. Mulai dari orientasi yang
sifatnya egosentris yaitu menekankan pada dirinya sebagai patokan dalam melihat
hubungan spasial, arah kiri-kanan dari dirinya, berkembang menjadi kerangka
acuan objek pada salib sumbu pasangan titik yaitu salib sumbu utara-selatan dan
timur barat.
Menurut Piaget & Inhelder (1971) kemampuan
spasial yang merupakan aspek dari kognisi berkembang sejalan dengan
perkembangan kognitif yaitu konsep spasial pada tahapan sensori-motor, konsep
spasial pada tahapan pra-operasional, konsep spasial pada tahapan konkret-operasional
dan konsep spasial pada tahapan formal-operasional. Kemampuan spasial ini
diperoleh anak melalui alur perkembangan berdasarkan hubungan spasial topologi,
proyektif dan euclidis. Pada hubungan spasial topologi anak mengerti spasial
dalam hubungannya dengan relasi topologi yaitu “di samping” atau “di depan”.
Dalam mengorganisasikan dan membangun bagian gambar atau pola masih didasarkan pada
hubungan yang bersifat proksimitas, keterpisahan, urutan, ketertutupan dan
kontinuitas. Objek atau gambar masih dilihat dalam isolasi, tidak dihubungkan
dengan objek lain. Hubungan spasial semacam ini adalah bersifat hubungan
satu-satu atau hubungan berkesinambungan. Penekanan hubungan spasial topologi
adalah pada suatu kenyataan yang berkaitan atau keberikatan. Pada tahapan
topologi, anak mulai mampu merepresentasikan spasial untuk dirinya dan patokan
yang digunakan untuk menetukan posisi objek adalah dirinya. Tahapan proyektif
dan tahapan euclidis berkembang pararel pada saat anak memasuki tahapan konkret-operasional.Anak
mulai dapat melihat objek dari berbagai sudut pandang. Lambat laun, anak memahami
bahwa perspektif merupakan suatu system yang terintegrasi dan saling berkaitan
secara logis, yaitu kanan menjadi kiri bila dilihat dari arah yang berlawanan.
Secara pararel tahapan proyektif dan euclidis dicapai bila anak sudah dapat
melihat objek dengan mempertimbangkan hubungan terhadap sudut pandang. Pada
saat ini anak mencapai apa yang disebut dengan kerangka acuan. Kerangka acuan
adalah kemampuan yang berhubungan dengan orientasi, lokasi dan perpindahan
objek dalam ruang. Piaget & Inhelder (1971) mencirikan kerangka acuan
sebagai organisasi yang simultan dari segala posisi dalam tiga dimensi, dimana
poros dalam kerangka acuan menjadi objek atau posisi yang tidak berubah yang
disebabkan oleh perubahan dalam sistem. Spasial proyektif meliputi kemampuan
untuk berespon saling koordinasi objek yang terpisah dalam ruang. Spasial
euclidis menunjukkan kriteria ukuran dan jarak antara objek dan letak lokasi.
Hubungan spasial diterapkan pada tiga dimensi yaitu kiri-kanan, atas-bawah dan
depan belakang.
Menurut Hamley (dalam McGee, 1979) kemampuan matematika
adalah gabungan dari inteligensi umum, pembayangan visual, kemampuan untuk
mengamati angka, konfigurasi spasial dan menyimpan konfigurasi sebagai pola
mental. Dalam kemampuan spasial diperlukan adanya pemahaman kiri-kanan,
pemahaman perspektif, bentuk-bentuk geometris, menghubungkan konsep spasial
dengan angka, kemampuan dalam mentransformasi mental dari bayangan visual.
Faktorfaktor tersebut juga diperlukan dalam belajar matematika. Peranan
kemampuan spasial terhadap matematika disokong beberapa studi validitas. Hills (dalam
McGee, 1979) meneliti hubungan antara berbagai tes kemampuan spasial yang
melibatkan visualisasi dan orientasi dari Guiford dan Zimmerman dengan nilai
matematika Ditemukan ada korelasi yang tinggi antara kemampuan spasial dengan
nilai matematika, bila dibandingkan dengan tes verbal dan penalaran. Demikian
pula studi yang dilakukan oleh Bishop (1980), Benbow dan McGuinness (dalam
Geary, 1996) menemukan adanya hubungan antara pemecahan masalah matematika
dengan kemampuan visuospasial. Dalam mempelajari peran kemampuan spasial
terhadap prestasi belajar matematika, Smith (1980) menyimpulkan bahwa antara
kemampuan spasial dengan konsep matematika taraf tinggi terdapat hubungan yang
positif, tetapi kurang mempunyai hubungan dengan perolehan konsep-konsep
matematika taraf rendah seperti hitungan. Studi dari Sherman (1980) terhadap
anak usia sekolah, menemukan adanya hubungan yang posif antara prestasi belajar
matematika dan kemampuan spasial. Penggunaan contoh spasial seperti membuat
bagan, dapat membantu anak menguasai konsep matematika. Metode pengajaran matematika
yang memasukkan berpikir spasial seperti bentuk-bentuk geometris, mainan
(puzzle) yang menghubungkan konsep spasial dengan angka, menggunakan
tugas-tugas spasial dapat membantu terhadap pemecahan masalah dalam matematika (Newman,
dalam Elliot, 1987). Demikian pula pengertian terhadap konsep pembagian,
proporsi tergantung dari pengalaman spasial yang mendahuluinya (Clements, dalam
Eliot, 1987)[9]
2.
Kecedasan
natural
Menurut Suhirman (2012) (dalam Hamza B. Uno google scholar) Untuk kelangsungan kehidupannya manusia sangat
tergantung pada lingkungan dalam mendapatkan sumber daya alam, sehingga
kebutuhan manusia akan sumber daya alam akan semakin besar seiring dengan
peningkatan jumlah penduduk, akibatnya kualitas lingkungan semakin menurun. Fakta
penurunan kualitas lingkungan terjadi di NTB dengan meningkatnya kasus
pencemaran lingkungan yang meliputi pencemaran air, tanah dan udara. Beberapa
kasus yang terjadi yakni adanya pencemaran limbah domestik di beberapa sungai
di Mataram seperti sungai Jangkuk, sungai Ancar, dan sungai Meninting yang
sudah mulai melewati ambang batas.
Bukan hanya masalah pencemaran, masalah
banjir yang sering melanda wilayah Kota Mataram merupakan masalah lokal yang
dikarenakan menurunnya daya dukung lingkungan pada daerah resapan, sehingga run
off terakumulasi menjadi banjir yang melanda wilayah Kota Mataram dan
sekitarnya. Hal ini jelas mengakibatkan kerugian secara materil dan
mengorbankan jiwa manusia.
Dampak lain dari banjir adalah timbunan
sampah dan lumpur yang menimbulkan berbagai masalah sanitasi lingkungan dan
penyakit menular. Kasus lain yang sekarang sedang melanda wilayah Kota Mataram
adalah konversi lahan pertanian menjadi pertokoan dan perumahan yang
mengakibatkan daerah-daerah resapan air menjadi semakin sempit.
Ditinjau dari penyebab kerusakan
lingkungan, maka sebagai langkah preventif, upaya yang harus diakukan adalah
dengan menjaga kelestarian lingkungan hidup. Perlu dilakukan pembinaan
konseptual dan dilaksanakan secara berkesinambungan. Pembinaan ini dapat
dilakukan melalui penanaman dan pemberian materi tentang lingkungan hidup pada
pendidikan formal, terutama pada tingkat Sekolah Menengah.
Materi tentang pendidikan lingkungan
hidup selama ini di sekolah-sekolah formal seperti di SMP belum secara optimal
dilaksanakan. Padahal sekolah merupakan wadah yang sangat potensial dalam
membentuk karakter manusia agar memiliki wawasan lingkungan yang memadai.
Pentingnya implementasi pendidikan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari
menggungah Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk menerapkan Green
School sebagai muatan lokal di beberapa SMP yang ada di wilayah Provinsi NTB.
Rendahnya pengetahuan dan pemahaman
siswa terhadap lingkungan hidup menyebabkan kesadaran dan kepedulian siswa
terhadap lingkungan hidup juga rendah. Di samping itu guru tidak memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang memadai tentang lingkungan hidup. Melalui
pendidikan di sekolah semestinya tindakan-tindakan dan sikap positif terhadap
lingkungan hidup telah ditanamkan.
Jika dikaji dari muatan mata pelajaran,
maka IPA (Fisika, Kimia dan Biologi merupakan mata pelajaran yang sarat akan
pengetahuan yang dapat menanamkan sikap positif terhadap lingkungan. Namun
kenyataannya, meskipun mata pelajaran IPA diberikan sejak anak usia sekolah dasar,
namun tidak mampu membekali peserta didik dengan pengetahuan dan sikap yang
positif terhadap lingkungan.
Dari hasil wawancara ditemukan bahwa
pengetahuan pendidikan lingkungan hidup guru-guru di SMPN 1 Mataram masih
sangat rendah. Pengetahuan lingkungan hidup yang dimaksudkan adalah
konsep-konsep ekologi, perencanaan kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode
dan media serta evaluasinya. Hal ini dapat dilihat dari minimnya guru-guru
dalam mengikuti pelatihan dan pendalaman materi tentang PLH. Disamping itu
buku-buku penunjang dan alat-alat peraga juga sangat sedikit. Di lain pihak,
tidak ada upaya yang maksimal untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman
melalui berbagai sumber, seperti buku, jurnal, melalui e-elektronik (internet).
Keadaan inilah yang mengakibatkan dalam perencanaan pembelajaran tentang
lingkungan hidup guru cenderung menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan
materi pelajaran. Dengan metode ceramah siswa pasif mendengarkan penjelasan
guru.
Permasalahan di atas disebabkan
penerapan metode yang tidak efektif dalam mata pelajaran IPA di
sekolah-sekolah, materi yang disampaikan di SMP lebih dominan tentang IPA tanpa
mempertimbangkan materi lingkungan hidup. Orientasi pembelajaran IPA masih
banyak tataran teori.
Berdasarkan uraian tersebut, melalui
tulisan ini, penulis akan mencoba meneliti pengaruh Pembelajaran Berbasis
Masalah (PBL) dan kecerdasan naturalis siswa terhadap kemampuan memecahkan
masalah lingkungan. Penelitian ini berorientasi pada metode eksperimen dengan
mempertimbangkan salah satu karakteristik psikologi siswa yakni kecerdasan
naturalis. Sedangkan metode pembelajaran yang akan diterapkan adalah
pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan PLH monolitik PLH terintegrasi.
Pentingnya kecerdasan naturalis dalam
upaya meningkatkan kemampuan siswa memecahkan masalah lingkungan. Temuan
lain dalam penelitian ini adalah kecerdasan naturalis siswa memberikan pengaruh
yang signifikan terhadap kemampuan siswa memecahkan masalah lingkungan. Dalam
memilih pendekatan perlu memahami dan mempertimbangkan kecerdasan naturalis
siswa sebagai salah satu karakteristik siswa. Dimana siswa dengan kecerdasan
naturalis yang tinggi menunjukkan kecakapan, kemampuan dan kemahiran dalam
mengidentifikasi dan mengklasifikasi berbagai macam tumbuhan dan hewan yang
terdapat dalam lingkungan. Di dalam dunia nyata, seorang naturalis memiliki
kemahiran dalam berkebun, merawat tanaman yang indah, memelihara hewan serta
memiliki perhatian yang lebih dalam tentang penyelamatan lingkungan.
Seorang naturalis biasanya telah
memperlihatkan bakatnya sejak kecil, yang nantinya memiliki kecerdasan
naturalis tinggi yang dicirikan dengan senang memelihara hewan, dapat mengenali
dan memberi nama banyak jenis tanaman, mempunyai minat dan pengetahuan tentang
bagaimana tubuh bekerja, dapat membaca tanda-tanda alam, seperti cuaca,
mempunyai pemahaman dan minat pada isu-isu lingkungan global dan berpandangan
bahwa pelestarian sumber daya alam dan pembangunan berkelanjutan merupakan
keharusan.
Kecerdasan naturalis dapat dibina dan
dikembangkan melalui jalur pendidikan formal, informal dan nonformal melalui
mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup maupun ilmu pengetahuan alam. Dimana
mata pelajaran tersebut mengandung unsur pengetahuan, sikap dan komitmen serta
tanggungjawab terhadap alam atau lingkungan selain itu kecerdasan naturalis
dapat ditumbuhkambangkan melalui program sekolah yang disebut Adiwiyata (green
school), dimana Provinsi Nusa Tenggara Barat saat ini mulai dicanangkan sebagai
salah satu program daerah untuk menunjang Gerakan NTB Hijau sebagaimana
dirumuskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah [RPJMD] 2009-2013.
Atas dasar pertimbangan potensi sekolah dengan jumlah siswa dan atau warga
sekolah serta [10]
D.
pengaplikasian
di sekolah pengaruh kecerdasan natural dan spasial dalam pembentukan karakter
anak
1.
strategi
pengejaran untuk kecerdasan spasial
Menurut Hamza B. Uno (2010: 137-140) lukisan
guah prasejarah adalah bukti bahwa proses belajar telah lama memegang peranan
penting dalam kehidupan manusia. Sayangnya di sekolah-sekolah masa kini gagasan
mempersentasikan informasi kepada siswa, baik melalui model visual maupun
auditoris kadang-kadang diterjemahkan menjadi tulisan di papan tulis, praktik
yang bersifat linguistic. Kecerdasan spasial berkaitan dengan gambar, baik itu
berupa pecitraan/gambar di benak kita, maupun gambar didunia eksternal : foto
slide, film, gambar symbol grafis, bahasa ideografis, dan lin-lain. Berikut ini
lima strategi pengajaran yang di rancang untuk mengaktifkan kecerdasan spasial
siswa.
a.
Visualisasi
Salah satu cara termudah membantu siswa
menerjemahkan buku atau materi pelajaran menjadi gambar dan pecitraan adalah
meminta mereka memejamkn mata dan memebayangkan apa yang mereka pelajari. Salah
satu penerapan strategi visualisasi adalah dengan menciptakan “papan tulis
mental” (atau layar lebar/layar televisi) di benak siswa. Mereka kemudian dapat
menggambarkan materi apapun yang harus mereka hafal di “papan tulis mental”
tersebut: ejaan kata, rumus matematika, fakta sejarah atau data lain. Ketika di minta mengingat
kembali papan tulis mental mereka dan “melihat” data yang tertulis di sana.
Penerapan yang lebih terbuka dari trategi
ini adalah dengan mengajak sisiwa memejam mata dan mem bayangkan apa yang baru
saja mereka baca atau pelajari (sebuah cerita atau bab dalam diklat). Kemudian
mereka dapat menggambarkan atau menceritakan pengalaman mereka. Guru juga dapat
mengarahkan siswa melalui kegiatan “pembayangan terbimbing” yang lebih formal
untuk memperkenalkan mereka pada konsep atau materi baru (misalnya, mengarahkan
siswa dalam tour terbimbing membayangakn system peredaran darah ketika
mempelajari anatomi). Siswa juga dapat mengalami pengalaman non spasial dalam
kegiatan ini ( misalnya, pencitraan, kinestis, vebal, atau musical).
b.
Penggunaan warna
Siswa yang memiliki kecerdan spasial
tinggi biasanya peka pada warna. Sayangnya, sekolah di penuhi ileh teks hitam
putih, lembaran foto copy, lembar kerja dan kapur tulis. Namun, ada banyak cara
yang kreatif memanfaatkan warna sebagai alat pembelajaran. Gunakan kapur
berwarna, spidol, transparansi warna ketika menulis di depan kelas. Berikan
kepada siswa pensil, pulpen dan kertas warna untuk mengerjakan tugas mereka.
Siswa dapat menggunakan spidol berwarna untuk member kode warna materi yang
mereka pelajari (misalnya, member warna merah pada semua poin kunci , warna
hijau untuk data penunjang, dan warna orange untuk warna bagian lain yang
kurang jelas). Gunakan warna untuk memberikan penekanan pada pola peraturan
atau klasifikasi selama proses belajar mengajar (misalnya, member warna merah
pada semua bunyi konsonan, str dalam sebuah pelajaran tentang fonem, dan
menggunakan beberapa warna lainya untuk menandai tahap-tahap historis sejarah
bangsa yunani). Akhirnya, siswa dapat menggunakan warna kesukaan mereka sebgai
penghilang ster ketika menghadapi masalah-maslah yang sulit (misalnya untuk
para siswa, jika menemukan kosakata persoalan, atau gagsan yang tidak dimpahami
bayangaknlah warna kesukaan kalian, hal ini akan membantu kalian menemukan
jawaban yang tepat atau bahkan menemukan sendiri penjelasanya).
c.
Metafora gambar
Metafora adalah penggunaan satu gagasan
untuk merujuk pada gagasan lain, dan metafora gambar adalah pengekpresian suatu
gagasan melalui pencitraan visual. Para ahli psikologis perkembanganmengatakan
bahwa anak anak kecil adlah ahli metafora (lihat gardner, 1979). Sayangnay,
kapasitas ini biasanya menghilang seiring bertambahny usia. Namun, para
pendidik dapat menarik keluar bakat terpendam ini (untuk menggunakan metafora)
dalam membantu siswa untuk menguasai materi yang baru. Nilai pendidkanmetafora
ada pada penmbentukan hubungan antara yang sudah di ketahui siswa dan yang di
ajarkan. Kemudian hubungangan gagasan tersebut dengan pencitraan visual
tertentu. Buatlah sendiri metafora yang utuh (misalnay, seperti apa perkembangn
nusantara sejak masa majapahit, masa penjajahan, hingga menjadi Indonesia jika
dibandingakn dengan pertumbuhan ameba?), atau mintalah siswa membuat metafora
mereka sendiri (misalnya “jika organ-organ utama tubuh kita adalah binatang,
binatang apakah itu?”)
d.
Sketsa gagasan
Apabila membaca catatan pribadi
tokoh-tokoh terkenal dalam sejarah, seperti Charles Darwin, Thomas A. Edison,
dan Henry Ford, kita akan menemukan bahwa mereka mengunakan gagasan yang luar
biasa. Guru harus membantu siswa dalam mengartikulasi pemahaman mereka tentang
materi pelajaran. Strategi sketsa gagasan ini misalnya dengan meminta mengambarkan
poin kuci, gagsan utama, tema sentral atau kosep dasar yang diajarkan. Agar
cepat dan mudah sketsa ini tidak harus rapid an menyerupai kenyataannya.
e.
Symbol grafis
Salah satu strategi pengajaran paling
tradisional adalah menulis di papan tulis. Strategi yang tidak banyak
diguanakan lagi, terutama disekolah dasar adalah mengambar di papan tulis,
padahal sebenarnya gambar sangat penting bagi proses pemahaman siswa bagi yang
memiliki kecenderungan pada kecerdasan spasial. Karena itu, untuk melaksanakan
strategi ini, anda hsrus melatih menggambar sekurang-kurangnya di beberapa
bagian pelajaran, misalnya dengan menciptakan symbol grafis untuk konsep yang
akn di pelajari. Lihat contoh berikut ini.
·
Mengilustrasikn
tiga wujud benda dengan menggambar benda padat (tanda cek tebal), benda cair
(tanda lengkung tipis), dan benda gas (titik-titik kecil)
·
Mengilustrasikan
“akar kata” dengan membuat gambar akar kecil dibwah kata yang dimaksud di papan
tulis.
·
Menggambar alur
cerita novel atau peristiwa sejarah dan melengkapi alur tersebut tidak hanya
dengan tanggal atau peristiwa-peristiwa tertentu.
·
Anda tidak harus
pandai menggambar untuk dapat menggunakan strategi ini, symbol grafis yang
tidak terlalu bagus suadah cukup untuk strategi ini. Jesedihan anda untuk
menunjukan gambar yang tidak terlalu bagus tersebut dapat menjadi contih bagi
siswa yang merasa malu memperlihatkan gambar mereka kepada siswa lain.[11]
2.
Srategi
pengajaran untuk kecerdasan naturalis
Pada umumnya proses belajar mengajar di
lakukan di gedung-gedung sekolah. Bagi siswa yang lebih efektif cara belajar
melalui alam, kondisi tadi berarti memisahkanmereka dari sumber belajar yang
paling penting. Ada dua solusi primer untuk dilemma ini. Pertama perlu
meningkatkan kesempatan bagi siwa untuk belajar di lingkungan alam. Kedua,
perlu menghadirkan alam dan dunianya kedunia kelas atau seekolah sehingga siswa
memiliki kecenderungan pada kecerdasan naturalis., artinya siswa memperoleh
kesempatan yang lebih besar untuk mengembangkan kecerdasan naturalis mereka
saat berada disekolah. Strategi-strategi berikut ini memanfaatkan satu atau
kedua posisi tersebut.
a.
Jalan-jalan di
alam terbuka
Fisikawan pemenang nobel Rihcard Fyman
pernah menulis bahwa ia mulai merintis karirnya ketika berjalan-jaln di alam
terbuka bersama ayahnya (lihat cerdas jenaka, Mizan 2002-Red), sifat ingin
taunya terbentuk dari pernyataan yang dilontarkan oleh ayahnya selama
berjalan-jaln itu (misalnya “binatang ap yang membuat lubang semacam itu”).
Dengan cara yang sama guru dapat mempertimbangkan manfaat “jalan-jalan di
hutan” (atau aspek-aspek alam apapun yang ada di lingkuangan sekolah)untuk
menguatkan materi yang akan dipelajari di kelas. Sebenarnya semua mata
pelajaran dapt diajarksn melalui jalan jaln di alam ini. Ilmu alam dan
matematika tentu saja dapat di pelajari dengaan berbagai prinsip yang bekerja
dalam pertumbuhan tanaman, cuaca tanah
dan binatang yang berlari-lari atau terbang kesana kemari. Jika anda mengajar
sara atau sejarah yang melibatkan kingkungan akam (dan kebanyakan memang
melibatkan lingkungan alam sekurang-kurangnya dibeberpa bbagian), anda dapat
menggunakan strategi ini untuk berkonstruksi peristiwa-peristiwa yang terjadi
dalam cerita atau periode sejarah tertentu. Katakanlah, “bayangkan dibawah
pohon ini samsul bahri dan siti Nurbaya sering bertemu dalam kisah Siti Nurbaya karya Marah Rusli atau
bayangkan padang rumput ini adalah tempat berlangsungny perang Diponegoro
melawan pasukan Belanda”. Jalan-jaln di alam terbuka juga sangat cocok menjadi
bentuk persiapan kegiatan menukis kreatif, menggambar atau kesenian.
b.
Melihat keluar
jendela
Satu gambaran klasik siswa yang “kurang
memerhatikan” pelajaran adalah anak yang duduk di meja sambil menatap keluar
jendela, mungkin ia membayangkan apa yang dilakukannya saat ini. Mengapa mereka
ingin melihat keluar jendela? Biasanya karena mereka melihat keluar lebih
menari dari pada yang terjadi didalm kelas. Apabial benar demikan, mengapa kita
tidak menggunakan kecenderungan “kehilangan minat pada tugas kelas” ini sebagi strategi kelas yang positif?
Dengan kata lain “melihat ke luar jendela” adalah teknik yang dapt digunakan
para pengajar untuk memajukan kurikulum.
Contoh untuk model belajar ini, yakni
dengan melatih kemampuan obserfasi ilmiah dengan cara mencatat perilaku
binatang, (Jane Goodall, seorang naturalis) menelusuri kecintaanya pada
binatang saat dia berusia lima tahun. Ia menunggu sekitar 5lima jam dikandang
ayam hanya untuk melihat bagaiman ayam bertelur. Dalam hal ini siswa pun dapat
mengamati dan mencatat berapa banyak makanan yang dapat dimakan seekor binatang
dihubungkan dengan berat badanya.
c.
Ekostudi
Strategi terakhir ini menyiratksn
kesimpulan pentingnya memiliki sikap hormat pada alm sekitar. Inilah gagasan
initi di balik ekostudi. Strategi ini berarti bahwa apapun yang kita ajarkan,
baik itu sejarah, amtematika, sasra, geografi, ilmu sosial, seni music, maupun
mata pelajaran lain, kita mesti mempertimbangkan relevanisnya terhafap ekologi,
lebih dari sekedar satu unit maat pelajaran atau topic yang terpisah dari
bagian-bagian kurikulum yang lain, tetapi harus diintegrasiakn kedalam setiap
pengajaran sekolah. Berikut ini adalah beberapa contoh:
·
Jika topic yang
di ajarkan adalah pecahan atau persentase, guru meminta siswa menghitung
presentase sepsis yang terancam punah sekarang disbanding dengan misalnyaspesis
yang hidup lima puluh tahun yang lalu, atau presentase hutan tropis yang masih
tersisah di Brazil kini dibandingkan dengan yang ada di atahun 1990.
·
Jika topok yang
di ajarkan adalah bagaiman keputusan diolah di MPR, siswa dapat melihat dana
actual yang di tujukan untuk persoalan ekologis yang lolos untuk setiap tahap
pengesahan.
·
Jika guru dapat
memilih karya sastra yang akan dibahas dikelas, drama karya Ibsen An Enemy Of People drama ekologis yang
jauh mendahului zamanya – dapat dibahas atau di mainkan oleh siswa.
Bagaimana siswa peduli pada kelangsungan
bumi ini (siswa yang peka pada persoalan-persoalan ekologis), strategi semacam
ini dapat membantu menarik mereka masuk kedalam kurikulum dan sekaligus
merangsang semua siswa untuk pada semakin tipisnya sumber daya alam di bumi
ini.[12]
BAB III
Penutup
Simpulan
Kecerdasan visual dan spasial adalah kemampuan untuk
melihat dan mengamati dunia visual dan spasial secara akurat (cermat). Visual
artinya gambar, spasial yaitu hal-hal yang berkenaan dengan ruang atau tempat.
Kecerdasan naturalis
adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, mengungkapkan dan membuat
kategori terhadap apa yang di jumpai di alam maupun lingkungan. Intinya adalah
kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam
semesta,
strategi pengejaran untuk kecerdasan
spasial terdiri dari (1) Visualisasi, (2) Penggunaan warna, (3) Metafora gambar
(4) Sketsa gagasan (5) Symbol grafis
trategi pengejaran untuk kecerdasan
natural (1) Jalan-jalan di alam terbuka, (2) Melihat keluar jendela (3)
Ekostudi
[1] Muchlisin
riadi 2013 (http://www.kajianpustaka.com/2013/09/pengertian-dan-jenis-jenis-kecerdasan.html) di akses
pada tanggal 31 oktober 2017 pukul 22:35
[2]
Hamza b. uno. Mengelola kecerdasan dalam
pembelajaran.(Jakarta : PT Bumi Aksara. 2010) 13
[3] Risa dea
2016 ((https://www.scribd.com/doc/295701073/kecerdasan-spasial) di akses
pada tanggal 31 aoktober 2017 pukul 23:15
[4] Muchlisin
riadi 2013 (http://www.kajianpustaka.com/2013/09/pengertian-dan-jenis-jenis-kecerdasan.html)
di akses pada tanggal 31 oktober 2017 pukul 22:35
[5]
Hamza b. uno. Mengelola kecerdasan dalam
pembelajaran.(Jakarta : PT Bumi Aksara. 2010) 14
[6] Yusri
Zulkifli 2009 (https://www.scribd.com/doc/14249983/Paper-Kecerdasan-Natural) di akses
pada tanggal 1 November 2017 pukul 00:04
[7]
Risa Dea 2016 (https://www.scribd.com/doc/295701073/kecerdasan-spasial) di akses
pada tanggal 31 aoktober 2017 pukul 23:15
[8]
Yusri Zulkifli 2009 (https://www.scribd.com/doc/14249983/Paper-Kecerdasan-Natural) di akses
pada tanggal 1 November 2017 pukul 00:04
[9]
Hamza b. uno (https://scholar.google.co.id/scholar?cites=17793229884666899350&as_sdt=2005&sciodt=0,5&hl=id) di akses
pada tanggal 2 November pukul 15:20
[10]
Hamza B. Uno (https://scholar.google.co.id/scholar?q=related:xYrrxAgY7-kJ:scholar.google.com/&hl=id&as_sdt=0,5) di akses
pada tanggal 1 November 20017 pukul 16:3
[11]
Hamza B. Uno. Mengelola kecerdasan dalam
pembelajaran ( Jakarta : PT. Bumi Aksara. 2010) hal 137-140
[12]
Hamza B. Uno. Mengelola kecerdasan dalam
pembelajaran ( Jakarta : PT. Bumi Aksara. 2010) hal 155-157